Quadruple Liverpool Bukan Cuma Mimpi, Berikut ini Alasannnya


Bolapagi.com
The Reds duduk di puncak klasemen Perserikatan Utama Inggris sesudah mengentaskan Manchester United 4-0, mungkinkah empat gol menjadi pertanda empat trofi? Bersama dengan pipi mekar dan anggukan kepala, Jurgen Klopp merangkum semuanya bersama dengan paripurna.



"Suka?" ia ditanya sambil berlangsung ke bus team Liverpool, sementara bersiap-siap didalam perjalanan pulang penuh kepuasan ke Merseyside. Jawaban Klopp telah memadai. Dia memang suka, tetapi tak cuma tersebut saja. Bisa saja terkuras, sehabis hari yang benar-benar menyedot daya? Tentu emosional, ya, sesudah menonton seremoni di akhir laga?


Dan pastinya fokus, menghadapi tantangan di hadapan mereka.

Kemenangan semi-final Piala FA Liverpool atas Manchester City memang besar, namun kejayaan yang jauh lebih besar telah menunggu mereka, dan Klopp dan juga para pemainnya jelas betul soal tersebut.
Mereka nikmati perjalanannya, tapi kenyataannya adalah mereka terpaut 10 laga berasal dari keabadian, prospek jadi klub pertama yang beroleh quadruple konsisten membayangi sejalan langkah mereka mengentaskan halangan satu per satu. 



"Ini sesuatu yang akan diimpikan seluruh orang," kata Virgil van Dijk, bicara kepada kerumunan reporter di Wembley. "Tapi belum dulu tersedia yang melakukannya, dan tersedia alasannya: gara-gara nyaris mustahil."Tak wajib IQ jenius untuk tahu kata kuncinya, kan? Nyaris mustahil.


Nyaris.

Mengingatkan kepada keliru satu tim talk terpopuler yang dulu Klopp berikan, di Hotel Hope Street sebagian jam sebelum leg kedua semi-final Perserikatan Champions Eropa vs Barcelona 2019 lalu.
Liverpool rontok 3-0 di leg pertama di Catalunya, tapi ketika mereka berkumpul untuk kedap pra-pertandingan, Klopp menyajikan tidak benar satu penampilan terbaiknya.
"Semua global merasa ini mustahil," katanya kepada para pemain. "Dan jujur saja, kemungkinan memang mustahil."

“But because it’s you? Because it’s you, we have a chance.”
"Tapi sebab ini kalian? Sebab ini kalian, kami miliki kesempatan."

Pidato tersebut sadar berlaku juga untuk waktu ini, tiga tahunan sesudah itu. Misi Liverpool memenangkan seluruh empat kompetisi besar - Perserikatan Utama Inggris, Piala Fa, Piala Perserikatan, dan Perserikatan Champions - tampak mustahil, dan kemungkinan memang mustahil. Tapi bersama dengan team ini? Bersama dengan team ini, mereka miliki kesempatan.

Sekedar kala yang akan memperlihatkan seberapa besar kemenangan Liverpool Sabtu (17/4) kemarin. Mufakat umumnya adalah bahwa pasukan Pep Guardiola-Lah yang lebih terlihat meyakinkan di dua perjumpaan di perserikatan musim ini, namun justru armada Klopp yang merajai Wembley, menyengat Man City bersama dengan racikan maut: rasa lapar, intensitas, dan mutu, terutama di 45 menit pertama.

"Tidak benar satu paruh kala paling baik yang dulu kita mainkan," sebut Klopp, Trent Alexander-Arnold bilang Liverpool "Outstanding", menegaskan bahwa mereka telah studi berasal dari hasil imbang 2-2 10 April lalu di Etihad, mengeksekusi taktik mereka bersama dengan laksanakan pressing tinggi dan keras semenjak menit pertama.

"Kayaknya saya belum dulu memirsa suatu team melumat City layaknya yang baru saja kita laksanakan," kata bek sayap Inggris itu.

Memang tersedia alasan di balik lesunya City. Tak tersedia Kevin De Bruyne, yang hanyalah duduk di bangku cadangan tak terpakai, dan tak tersedia Kyle Walker, yang terjadi pincang di pinggir lapangan, tanda cederanya belum sembuh. Aymeric Laporte, Ruben Dias, dan Rodri juga tak dibawa, begitu pula bersama dengan Ederson, waktu kiper penggantinya yakni Zack Steffen jalankan blunder fatal di anjung besar.

Dan Man City sendiri juga masih memiliki pertarungan lain. Puncak Perserikatan Utama Inggris memang direnggut berasal dari tangan mereka sesudah Liverpool membantai Manchester United 4-0, Rabu (20/4) dini hari Wib, tapi City bermain satu laga lebih sedikit dan mesti memenangkan tujuh laga paling akhir mereka untuk menjamin titel keempat didalam lima tahunan. Tidak tak barangkali pula merekalah yang akan menjadi kendala terbesar Liverpool nanti, kecuali The Reds sukses melangkahi Villarreal dan melaju ke final Perserikatan Champions. Pertarungan Merseyside-Manchester masih jauh berasal dari kata selesai. 


Sebatas saat yang akan memperlihatkan seberapa besar kemenangan Liverpool Sabtu (17/4) kemarin. Mufakat umumnya adalah bahwa pasukan Pep Guardiola-Lah yang lebih terlihat meyakinkan di dua perjumpaan di perserikatan musim ini, tapi justru armada Klopp yang merajai Wembley, menyengat Man City bersama racikan maut: rasa lapar, intensitas, dan mutu, terutama di 45 menit pertama.

"Keliru satu paruh sementara paling baik yang dulu kita mainkan," sebut Klopp, Trent Alexander-Arnold bilang Liverpool "Outstanding", menegaskan bahwa mereka udah studi berasal dari hasil imbang 2-2 10 April lalu di Etihad, mengeksekusi taktik mereka bersama laksanakan pressing tinggi dan keras semenjak menit pertama.

"Kayaknya saya belum dulu saksikan suatu team melumat City layaknya yang baru saja kita melaksanakan," kata bek sayap Inggris itu.

Memang tersedia alasan di balik lesunya City. Tak tersedia Kevin De Bruyne, yang sekedar duduk di bangku cadangan tak terpakai, dan tak tersedia Kyle Walker, yang terjadi pincang di pinggir lapangan, tanda cederanya belum sembuh. Aymeric Laporte, Ruben Dias, dan Rodri juga tak dibawa, begitu pula bersama Ederson, pas kiper penggantinya yakni Zack Steffen laksanakan blunder fatal di anjung besar.

Dan Man City sendiri juga masih miliki pertarungan lain. Puncak Perserikatan Utama Inggris memang direnggut berasal dari tangan mereka sehabis Liverpool membantai Manchester United 4-0, Rabu (20/4) dini hari Wib, tapi City bermain satu laga lebih sedikit dan kudu memenangkan tujuh laga paling akhir mereka untuk menjamin titel keempat di dalam lima tahunan. Tidak tak bisa saja pula merekalah yang akan menjadi halangan terbesar Liverpool nanti, terkecuali The Reds sukses melangkahi Villarreal dan melaju ke final Perserikatan Champions. Pertarungan Merseyside-Manchester masih jauh berasal dari kata selesai. 

Setidaknya mereka memiliki kans untuk bangkit bersama dengan langsung. Sehabis Liverpool menghajar Manchester United di Anfield Rabu dini hari tadi, Man City akan menjamu Brighton 24 jam lantas. Fatal terkecuali terpeleset.

Liverpool bakal berharap kemenangan mereka akan membawa dampak Guardiola overthinking, dan menggeregoti kepercayaan diri pasukannya.

Yang barangkali berlangsung, lebih dari satu anggota skuad City sanggup 'Terpenjara' sehabis harapan treble mereka musnah begitu saja. Saya akan kaget jikalau Steffen, Fernandinho, Nathan Ake, atau Oleksandr Zinchenko akan kerap tampil di residu musim.

Di sisi lain, City juga akan berharap Liverpool terbebani sejarah dan kepadatan jadwal. Meski The Reds begitu lua biasa musim ini, masih tersedia peluang untuk gagal bersama dengan spektakuler. 

Klopp dan anak asuhnya memang piawai menangani tekanan, namun mereka belum dulu merasakan suasana layaknya ini sebelumnya. Apalagi, belum tersedia team yang dulu merasakannya.

Dan itulah yang akan membawa dampak pekan-pekan ke depan begitu layak dinantikan. Sejarah di depan mata mesin merah Jurgen Klopp.

Menjadi, berapa trofi yang akan masuk ke lemari Anfield akhir Mei nanti? Satu, dua, tiga, atau empat?